Masih berasa “Indonesia” kah kota kita di masa depan?
Di era globalisasi sekarang, perkembangan sebuah kota sangat cepat dan drastis, apabila tidak direncanakan sejak awal, maka yang akan terjadi kota tersebut akan overload dan bukannya menjadi tempat yang nyaman tetapi malah sebaliknya.
Kota yang telah melebihi kapasitasnya tersebut terjadi akibat tidak adanya pandangan visi kedepan tentang kota tersebut, lebih mudahnya disebut tidak adanya “ramalan” tentang bagaimana kota tersebut di masa depan, infrastruktur dan tata ruangnya tak pernah direncanakan untuk mengatasi pelonjakan jumlah penduduk, transportasi dan masalah lingkungan.
Di daerah barat seperti Eropa dan Amerika perencanaan kota sudah ada sejak lama dan berkembang sangat pesat, tak heran apabila bangsa-bangsa timur mencoba mempelajari dan menirunya, kota-kota dibangun megah dengan gedung menjulang, seluruh permukaan tanah diperkeras, dengan tata ruang dan arsitektur yang bergaya modern serta penerapan teknologi, bisa dikatakan bangsa-bangsa barat telah menunjukkan dan membuat “kiblat” kepada dunia bagaimana bentuk suatu kota modern di zaman sekarang.
Namun berbagai permasalahan muncul di kota-kota modern zaman sekarang, Perkembangan kota-kota yang semakin tak teratur pun terjadi bukan hanya semata-mata karena pertumbuhan populasi yang besar. Kecenderungan angka urbanisasi lebih besar dari angka reurbanisasi. Dengan kata lain, orang lebih senang melakukan migrasi ke kota daripada ke luar kota. Mungkin hal ini muncul karena adanya pandangan bahwa kota dapat menyediakan kehidupan yang lebih baik dari pada tinggal di pedesaan. Memang semua fasilitas kehidupan tersedia di kota. Dan terjadilah berbagai efek dari memadatnya kota tersebut. Kota menjadi semakin tidak teratur, baik dilihat secara fisik maupun dari kacamata kehidupan sosial yang terjadi.
Permasalahan ini sebetulnya tidak timbul baru-baru ini. Pada awal abad ke 20, ketika Revolusi Industri bergulir, orang mulai menyadari masalah yang timbul pada kota-kota modern di Eropa. Populasi meningkat dengan cepat karena era mesin menyebabkan pabrik-pabrik yang ada di kota memerlukan buruh dalam jumlah besar. Muncul beberapa teori perencanaan kota dari Arsitek-arsitek terkenal saat itu. Le Corbusier menyodorkan The Radiant City, Ebenezer Howard dengan The Garden City, dan Frank Lloyd Wright dengan Broadacre City-nya. Ketiganya mencoba mengatasi masalah perkotaan yang ada dengan berdasarkan idealisme mereka sendiri. Ide-ide tentang perencanaan kota yang muncul kemudian lebih merupakan perkembangan atau kombinasi dari konsep yang di bawa oleh ketiga teori besar tadi.
Sekarang coba kita meninjau masalah yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan masalah yang terjadi pada kota-kota besar di dunia. Seberapa besarkah relevansi antara masalah perkembangan kota di dunia dengan yang ada di Indonesia. Ternyata, justru masalah yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia lebih kompleks dan lebih besar intensitasnya dari pandangan orang selama ini terhadap masalah urban internasional. Kasus perkotaan yang terjadi di Indonesia, secara umum, mirip dengan apa yang terjadi di dunia. Yang menjadikannya berbeda adalah karena kondisi sosial kultural yang ada di Indonesia memiliki kekhususan tersendiri. Read more of this >>